{"id":22555,"date":"2026-06-24T15:41:36","date_gmt":"2026-06-24T08:41:36","guid":{"rendered":"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/?p=22555"},"modified":"2026-06-24T15:41:36","modified_gmt":"2026-06-24T08:41:36","slug":"kenapa-lumpia-dimakan-dengan-daun-bawang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/kenapa-lumpia-dimakan-dengan-daun-bawang\/","title":{"rendered":"Kenapa Lumpia Dimakan Dengan Daun Bawang?"},"content":{"rendered":"<p data-start=\"81\" data-end=\"220\">Kalau ini pertama kali mencoba lumpia Semarang yang asli, ada satu hal yang membuatmu bertanya-tanya: Kenapa lumpia dimakan dengan daun bawang? karena itu kelihatannya unik tapi&#8230;<\/p>\n<p data-start=\"271\" data-end=\"506\">Banyak yang mengira kalau daun bawang disetiap sajian lumpia hanya hiasan piring. Tapi bagi masyarakat Semarang, daun bawang ini yang membuat cita rasa lumpia semakin nikmat.<\/p>\n<p data-start=\"508\" data-end=\"751\">Selain daun bawang, adapun kertas putih khusus yang selalu ada tiap kamu membungkus Lumpia Semarang. Benda sederhana inilah yang akan menjaga kebersihan lumpia yang kamu pesan dari kontaminasi kemasan yang mungkin masuk ke dalamnya bila tak pakai ini.<\/p>\n<p data-start=\"753\" data-end=\"932\">Nah, sebelum kamu menikmati lumpia berikutnya, yuk kenali lebih dalam alasan kenapa lumpia dimakan dengan daun bawang dan kenapa kertas pembungkusnya juga tidak boleh sembarangan.<\/p>\n<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_85 counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/kenapa-lumpia-dimakan-dengan-daun-bawang\/#Kenapa_Lumpia_Dimakan_dengan_Daun_Bawang\" >Kenapa Lumpia Dimakan dengan Daun Bawang?<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/kenapa-lumpia-dimakan-dengan-daun-bawang\/#1_Memberikan_Sensasi_Hangat_pada_Tubuh\" >1. Memberikan Sensasi Hangat pada Tubuh<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/kenapa-lumpia-dimakan-dengan-daun-bawang\/#2_Menyeimbangkan_Gurihnya_Rasa_Lumpia\" >2. Menyeimbangkan Gurihnya Rasa Lumpia<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/kenapa-lumpia-dimakan-dengan-daun-bawang\/#3_Mengurangi_Aroma_Pesing_Khas_Rebung\" >3. Mengurangi Aroma Pesing Khas Rebung<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/kenapa-lumpia-dimakan-dengan-daun-bawang\/#4_Terpengaruh_Budaya_Tionghoa\" >4. Terpengaruh Budaya Tionghoa<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/kenapa-lumpia-dimakan-dengan-daun-bawang\/#Jangan_Kaget_Kalau_Lumpia_Selalu_Dialasi_%E2%80%9CCap_Gajah%E2%80%9D\" >Jangan Kaget Kalau Lumpia Selalu Dialasi &#8220;Cap Gajah&#8221;<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/kenapa-lumpia-dimakan-dengan-daun-bawang\/#Jadi_Apakah_Aman_Jika_Lumpia_Dialasi_Kertas_Putih\" >Jadi, Apakah Aman Jika Lumpia Dialasi Kertas Putih?<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2 data-section-id=\"geec7a\" data-start=\"934\" data-end=\"978\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kenapa_Lumpia_Dimakan_dengan_Daun_Bawang\"><\/span>Kenapa Lumpia Dimakan dengan Daun Bawang?<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p data-start=\"980\" data-end=\"1170\">Penjual lumpia asli Semarang yang legendaris masih mempertahankan kebiasaan ini hingga sekarang karena alasan-alasan yang berikut ini:<\/p>\n<h3 data-section-id=\"lfb4vf\" data-start=\"1258\" data-end=\"1301\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Memberikan_Sensasi_Hangat_pada_Tubuh\"><\/span>1. Memberikan Sensasi Hangat pada Tubuh<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p data-start=\"1303\" data-end=\"1436\">Menurut cerita yang diwariskan oleh para pembuat lumpia generasi terdahulu, kenapa lumpia dimakan dengan daun bawang?\u00a0 itu karena daun bawang dipercaya dapat membantu menghangatkan tubuh.<\/p>\n<p data-start=\"1438\" data-end=\"1664\">Dahulu, lumpia banyak dijual pada sore hingga malam hari makanya daun bawang sering disajikan sebagai pendamping yang dianggap cocok untuk membantu tubuh tetap terasa hangat, terutama saat cuaca sedang dingin atau berangin.<\/p>\n<h2 data-section-id=\"1mzzi7o\" data-start=\"1790\" data-end=\"1833\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Menyeimbangkan_Gurihnya_Rasa_Lumpia\"><\/span>2. Menyeimbangkan Gurihnya Rasa Lumpia<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p data-start=\"1835\" data-end=\"1948\">Isi Lumpia Semarang biasanya rebung, ayam, telur, atau udang yang memiliki rasa gurih dan sedikit manis. Nah, daun bawang hadir sebagai penyeimbang.<\/p>\n<p data-start=\"2124\" data-end=\"2273\">Kenapa lumpia dimakan dengan daun bawang? jawabannya terletak dari rasanya daun bawang yang segar dan sedikit pedas alami itulah yang membantu membuat cita rasa lumpia menjadi lebih ringan dan tidak terasa terlalu &#8220;berat&#8221; di mulut.<\/p>\n<h2 data-section-id=\"lczdxa\" data-start=\"2357\" data-end=\"2400\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Mengurangi_Aroma_Pesing_Khas_Rebung\"><\/span>3. Mengurangi Aroma Pesing Khas Rebung<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p data-start=\"2402\" data-end=\"2466\">Lumpia Semarang isinya dari rebung atau bambu muda yang aromanya pesing. Untuk orang yang tidak terbiasa, maka aroma ini sangat mengganggunya menikmati makanan Khas Semarang ini.<\/p>\n<p data-start=\"2468\" data-end=\"2606\">Agar aroma rebung dapat disamarkan maka daun bawanglah yang menjadi solusinya karena aromanya juga\u00a0 tak kalah kuat sehingga dapat meminimalisir aroma tidak sedap dari rebung saat disantap.<\/p>\n<h2 data-section-id=\"1kk3t77\" data-start=\"2803\" data-end=\"2855\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"4_Terpengaruh_Budaya_Tionghoa\"><\/span>4. Terpengaruh Budaya Tionghoa<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p data-start=\"2857\" data-end=\"2933\">Sebenarnya Lumpia bukan aasli Semarang melainkan hasil akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa.<\/p>\n<p data-start=\"2935\" data-end=\"3094\">Dalam tradisi kuliner Tionghoa, daun bawang sering digunakan sebagai pelengkap makanan karena dipercaya mampu meningkatkan aroma dan memberikan sensasi hangat. Kepercayaan inilah\u00a0yang kemudian ikut membentuk cara penyajian lumpia Semarang yang kita kenal sekarang.<\/p>\n<h2 data-section-id=\"10w9neh\" data-start=\"3425\" data-end=\"3481\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Jangan_Kaget_Kalau_Lumpia_Selalu_Dialasi_%E2%80%9CCap_Gajah%E2%80%9D\"><\/span>Jangan Kaget Kalau Lumpia Selalu Dialasi &#8220;Cap Gajah&#8221;<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p data-start=\"3483\" data-end=\"3561\">Selain daun bawang, ada satu hal lagi yang sering membuat wisatawan penasaran yaitu alas putih dipermukaan bungkusan Lumpia Semarang.<\/p>\n<p data-start=\"3563\" data-end=\"3700\">Ketika Anda membeli lumpia goreng yang masih hangat, biasanya penjual akan memberikan alas berupa kertas putih. Itu bukan kertas biasa, melainkan kertas Laminated Machine Glazzed (LMG).<\/p>\n<p data-start=\"3563\" data-end=\"3700\">Kertas LMG dipakai karena\u00a0ketahanan terhadap minyak dan aman untuk bersentuhan langsung dengan makanan. Selain itu ada satu merk kertas LMG di Indonesia yang mempertimbangkan lingkungan yang berkelanjutan yakni Cap Gajah.<\/p>\n<p data-start=\"5415\" data-end=\"5581\">Cap Gajah merupakan produk kertas bungkus makanan yang diproduksi oleh <span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">PT Suparma Tbk<\/span><\/span> yang<span style=\"font-size: 16px;\"> dirancang untuk kebutuhan pedagang berbagai jenis makanan berminyak, termasuk lumpia, gorengan, sate, nasi bungkus, hingga jajanan tradisional lainnya.<\/span><\/p>\n<p data-start=\"5798\" data-end=\"5959\">Karena dibuat untuk kebutuhan food packaging, kertas ini menjadi pilihan banyak penjual makanan yang ingin menjaga kualitas dan keamanan produk yang mereka jual.<\/p>\n<h2 data-section-id=\"190kv11\" data-start=\"5961\" data-end=\"6015\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Jadi_Apakah_Aman_Jika_Lumpia_Dialasi_Kertas_Putih\"><\/span>Jadi, Apakah Aman Jika Lumpia Dialasi Kertas Putih?<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p data-start=\"6017\" data-end=\"6072\">Jawabannya tergantung pada jenis kertas yang digunakan.<\/p>\n<p data-start=\"6074\" data-end=\"6223\">Jika penjual menggunakan kertas LMG Cap Gajah, bukan hanya aman dipakai, tapi aman juga untuk lingkungan karena terbuat dari bahan baku yang ramah lingkungan.<\/p>\n<p data-start=\"7062\" data-end=\"7231\">Dengan demikian bila penjual menggunakan kertas LMG Cap Gajah, kamu bisa lebih tenang karena kertas tersebut memang dirancang untuk kebutuhan pembungkus makanan.<\/p>\n<p data-start=\"7233\" data-end=\"7485\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Tertarik untuk menjadikan LMG Cap Gajah wadah bekal makanamu sehari-hari di rumah? Tenang saja, LMG Cap Gajah yang yang original terdapat di tombol bawah ini.<\/p>\n<p data-start=\"7233\" data-end=\"7485\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">*tombol mp*<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalau ini pertama kali mencoba lumpia Semarang yang asli, ada satu hal yang membuatmu bertanya-tanya: Kenapa lumpia dimakan dengan daun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"set","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-22555","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-tisu"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22555","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22555"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22555\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":22579,"href":"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22555\/revisions\/22579"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22555"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22555"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22555"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}