{"id":4020,"date":"2023-08-18T15:33:35","date_gmt":"2023-08-18T08:33:35","guid":{"rendered":"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/?p=4020"},"modified":"2025-11-05T09:53:52","modified_gmt":"2025-11-05T02:53:52","slug":"sejarah-sate-madura","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/sejarah-sate-madura\/","title":{"rendered":"Sejarah Sate Madura dan Bedanya Dari Sate Lain, Sudah Tahu?"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perayaan kemerdekaan Indonesia di Istana Negara selalu menghadirkan suasana yang baru. Tahun ini Presiden Indonesia, Joko Widodo mengapresiasi orang-orang yang menggunakan kostum daerah di Istana Negara. Salah satu yang mencuri perhatian Jokowi adalah kostum khas Madura Jawa Timur. Bicara soal Madura, makanan yang identik dengan kote tersebut adalah sate. Tapi tahukah Anda tentang sejarah Sate Madura?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artikel ini akan membahas tentang sejarah makanan ini lengkap resep makanannya serta perbedaannya dengan Sate Ponorogo. Perbandingan tersebut dipilih karena kedua sate itu masih ada kaitannya satu sama lain. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Penasaran dengan hal itu? Berikut ini penjelasan selengkapnya.<\/span><\/p>\n<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_85 counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/sejarah-sate-madura\/#Sejarah_Sate_Madura\" >Sejarah Sate Madura<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/sejarah-sate-madura\/#Perbedaan_Sate_Madura_dengan_Sate_Ponorogo\" >Perbedaan Sate Madura dengan Sate Ponorogo<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/sejarah-sate-madura\/#1_Daging_Ayam_yang_Dipakai\" >1. Daging Ayam yang Dipakai<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/sejarah-sate-madura\/#2_Bumbu\" >2. Bumbu<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/sejarah-sate-madura\/#3_Penyajian_Sate\" >3. Penyajian Sate<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/sejarah-sate-madura\/#Resep_Sate_Madura\" >Resep Sate Madura<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/sejarah-sate-madura\/#Bungkus_Sate_Madura\" >Bungkus Sate Madura<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Sejarah_Sate_Madura\"><\/span><b>Sejarah Sate Madura<\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita tinggalkan dahulu pembahasan tentang kostum terbaik di Istana Negara. Saatnya kita mengetahui perjalanan dari salah satu makanan Madura, yaitu Sate.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sate Madura mudah ditemukan dimana saja. Biasanya pedagang sate madura identik dengan mendorong jualannya dengan gerobak. Kemudian, di kaca gerobak itu tertulis &#8220;Sate Khas Madura&#8221;. Anda pasti sering menemukannya, kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sambil menikmati Sate Madura, bacalah artikel ini di <em>smartphone<\/em> Anda. Kami akan sajikan sejarah Sate Madura yang menarik untuk Anda simak berikut ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejarah ini dimulai dari cerita rakyat yang melibatkan dua orang yaitu Arya Panoleh dan Batara Katong. Arya Panoleh adalah seorang penguasa Madura sedangkan Batara Katong adalah kakak dari Arya Panoleh. Pada saat itu, Arya Panoleh mengunjungi Sang Kakak yang bernama Batara Katong yang berkuasa di Ponorogo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai tamu pada umumnya, Arya diberikan suguhan yang terlihat sangat nikmat. Suguhan tersebut adalah makanan berbahan daging yang ditusuk dengan lidi dan diberi bumbu khusus. Dikarenakan Arya belum pernah menikmati makanan itu sebelumnya, Penguasa Madura itu pun sempat menolak hidangan tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Batara Katong pun berusaha membujuk adiknya dengan mengatakan bahwa olahan daging itu adalah makanan yang disantap oleh pendekar di Ponorogo. Mendengar hal itu, Arya dan rombongannya pun tergugah untuk menikmati makanan itu. Lambat laun Arya dan rombongannya menikmati olahan daging itu karena sangat nikmat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbekal cita rasa itu maka Arya pun belajar resep pembuatan olahan daging tersebut kepada kakaknya. Kemudian Arya pun membawanya ke Madura dan pelan-pelan memperkenalkannya ke masyarakat Madura.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/file.upi.edu\/Direktori\/FPTK\/JUR._PEND._KESEJAHTERAAN_KELUARGA\/195610201984032-ELLY_LASMANAWATI_W\/madura.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dra. Elly lasmanawati.Msi<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> dari Program Studi Pendidikan Tata Boga Universitas Pendidikan Indonesia mengatakan bahwa Sate Madura menggunakan bumbu yang terbuat dari\u00a0 kacang tanah yang dihaluskan dengan petis dan sedikit bawang merah. Kemudian sejarah Sate Madura diikuti dengan daging yang digunakan yaitu ayam hingga kambing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penamaan &#8220;Sate&#8221; berasal dari dialek Jawa yaitu Sak Biting (dibaca Sak Beteng). Kemudian orang Madura akrab menyebutkan kata itu dengan sebutan Sati. Seiring berjalannya waktu pelafalan tersebut berubah dengan sendirinya. Dengan demikian daging yang dibumbui yang ditusuk adalah identik dengan sebutan makanan Sate.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Madura begitu akrab dengan makanan Sate. Menurut Kadarisman Sastrodiwirjo selaku Pensiunan Peneliti Balitbang Provinsi Jawa Timur, kearaban orang Madura dengan sate karena kondisi tanahnya yang gersang. Sayangnya kondisi tanah tersebut sangat susah ditangani oleh aneka sayuran. Dengan demikian bahan pangan yang memungkinkan untuk diolah di Madura adalah dari hewani yang meliputi kambing, sapi, dan ayam yang kemudian dapat diolah menjadi sate.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut ahli yang sama, filosofi Sate Madura yaitu menyatukan setiap elemen dan disatukan. Daging yang terpotong dan ditusuk\u00a0 adalah sebuah perwujudan terhadap persatuan berbagai elemen agar menjadi satu kesatuan. Sampai saat ini, filosofi tersebut masih lestari karena masyarakat Madura yang merantau ke kota umumnya akan menjual sate. Dengan demikian selain filosofi, sejarah sate madura pun akan terus lestari sampai kapanpun.<\/span><\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Perbedaan_Sate_Madura_dengan_Sate_Ponorogo\"><\/span><b>Perbedaan Sate Madura dengan Sate Ponorogo<\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<figure id=\"attachment_4032\" aria-describedby=\"caption-attachment-4032\" style=\"width: 300px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4032 size-medium\" src=\"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/resep-sate-ayam-ponorogo_43-300x225.jpeg\" alt=\"Sate Ponorogo\" width=\"300\" height=\"225\" srcset=\"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/resep-sate-ayam-ponorogo_43-300x225.jpeg 300w, https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/resep-sate-ayam-ponorogo_43.jpeg 700w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-4032\" class=\"wp-caption-text\">Sumber: Detikcom<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah membaca sejarah Sate Madura di atas berarti Anda telah mengetahui kaitannya Madura dengan Ponorogo dalam hal makanan Sate. Ya, kaitan tersebut adalah dari sosok penemu kedua hidangan tersebut yang terkenal di Madura dan Ponorogo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu simaklah perbedaan Sate Madura dengan Sate Ponorogo berikut ini. Agar Anda tidak salah lagi ketika ingin membeli jenis sate.<\/span><\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Daging_Ayam_yang_Dipakai\"><\/span><b>1. Daging Ayam yang Dipakai<\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perbedaan Sate Madura dengan Sate Ponorogo dirasakan pada daging ayam yang digunakan. Sate madura menggunakan daging ayam yang mentah dan sudah terpotong kecil-kecil. Potongan tersebut mengikuti tusukan lidi yang digunakan. Umumnya lidi atau tusukan pada Sate Madura berdiameter cukup kecil. Dengan demikian ketahanan lidinya pun tidak cukup baik menahan potongan daging ayam yang cukup besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Daging ayam di Sate Ponorogo diiris dengan posisi yang melintang. Irisan tersebut menghasilkan daging ayam yang berbentuk pipih. Setiap tusuk Sate Ponorogo tersaji satu potongan daging ayam tanpa lemak dan kulit. Meskipun demikian potongan daging ayam itu masih cukup besar.<\/span><\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Bumbu\"><\/span><b>2. Bumbu<\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bumbu yang digunakan pada Sate Madura hanyalah kecap. Setelah sudah matang, sate madura akan disiram saus kacang yang sudah dibumbui sebelumnya. Bumbu-bumbu olahan saus kacang di Sate Madura menggunakan dua bahan yaitu kacang tanah disangrai dan campuran gula merah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara perbedaan Sate Madura dengan Sate Ponorogo yang digunakan oleh Sate Ponorogo yaitu ayamnya yang telah diiris akan direndam dengan bumbu bacem. Bumbu tersebut dibuat dengan menggunakan bahan-bahan seperti:\u00a0 ketumbar, merica, laos, jintan, kunyit, jahe, kemiri, dan gula jawa. Semua bahan itu dicampur dan direbus.<\/span><\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Penyajian_Sate\"><\/span><b>3. Penyajian Sate<\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sate Madura tersaji bersamaan bumbu kacang dan sambal. Agar rasanya lebih nikmat, Sate Madura menggunakan irisan bawang merah mentah, cabai rawit, dan potongan tomat. Kemudian bumbu kacang dicampurkan dengan irisan-irisan tersebut agar rasanya lebih nikmat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda dengan Sate Ponorogo, makanan itu tidak selalu menggunakan saus kacang. Perbedaan sate Madura dengan Sate Ponorogo adalah Sate Ponorogo kerap menggunakan saus kemiri dan lontong atau nasi sebagai karbohidratnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun jika Anda menemukan Sate Ponorogo menggunakan saus kacang, tekstur saus tersebut sedikit lebih cair. Hal itu karena bumbu kacang Sate Ponorogo ditambahkan dengan air tanpa kecap. Agar lebih nikmat saus Sate Ponorogo dicampurkan aneka irisan bawang merah, cabai, dan sedikit jeruk nipis. Sebagai pelengkapnya, Anda bisa tambahkan lontong atau Nasi.<\/span><\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Resep_Sate_Madura\"><\/span><b>Resep Sate Madura<\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<figure id=\"attachment_4029\" aria-describedby=\"caption-attachment-4029\" style=\"width: 300px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-4029 size-medium\" src=\"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/bali-stick-street-food-indonesia-1-300x200.jpg\" alt=\"sejarah sate madura | PT Suparma Tbk\" width=\"300\" height=\"200\" srcset=\"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/bali-stick-street-food-indonesia-1-300x200.jpg 300w, https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/bali-stick-street-food-indonesia-1-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/bali-stick-street-food-indonesia-1-768x512.jpg 768w, https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/bali-stick-street-food-indonesia-1-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/bali-stick-street-food-indonesia-1-2048x1365.jpg 2048w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-4029\" class=\"wp-caption-text\"><a href=\"https:\/\/www.freepik.com\/free-photo\/bali-stick-street-food-indonesia_4694028.htm#query=SATE&amp;position=1&amp;from_view=search&amp;track=sph\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sejarah sate madura | PT Suparma Tbk<\/a><\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Resep ini mudah untuk Anda tiru di rumah. Pada resep ini kami menggunakan daging ayam karena lebih gurih dan mudah untuk didapatkan. Berikut ini resep sate madura berbahan daging ayam:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">1. Siapkan bahan-bahan untuk pembuatan sate ayam khas Madura yang terdiri dari:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\">daging ayam yang sudah dipisahkan tulangnya.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">kecap manis<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">tusuk sate Bahan<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">kacang tanah kulit yang sudah disangrai<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">cabai merah keriting<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">kemiri,<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">cabai merah besar<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">gula merah<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">garam<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">penyedap rasa<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">air panas<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p>2. Haluskan kacang tanah bersamaan dengan cabai merah kering, cabai merah besar, gula merah, garam, dan penyedap rasa secukupnya.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">3. Tuangkan bumbu kacang halus di atas wajan yang sudah dipanaskan dengan api sedang cenderung kecil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 16px; font-weight: 400;\">4. Berikan air secukupnya dan aduklah sampai matang dan mengental. Koreksi rasa untuk menghasilkan bumbu sate Madura yang nikmat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 16px; font-weight: 400;\">5. Ambil sambal kacang, kecap manis, dan minyak goreng. Aduk rata. Kemudian celup ayam yang sudah dipotong dan ditusuk di dalamnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 16px; font-weight: 400;\">6. Bakar sate sambil di balik-balik untuk mencegah gosong. Angkatlah sate itu dan lumuri dengan saus kacang secukupnya.<\/span><\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Bungkus_Sate_Madura\"><\/span><b>Bungkus Sate Madura<\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-4033 size-full\" src=\"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/Screenshot-2023-08-18-152130.png\" alt=\"Kertas bungkus sate | PT Suparma Tbk\" width=\"877\" height=\"882\" srcset=\"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/Screenshot-2023-08-18-152130.png 877w, https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/Screenshot-2023-08-18-152130-298x300.png 298w, https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/Screenshot-2023-08-18-152130-150x150.png 150w, https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/Screenshot-2023-08-18-152130-768x772.png 768w\" sizes=\"(max-width: 877px) 100vw, 877px\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika Anda tidak sempat membuatnya di rumah, Saet Madura adalah makanan yang bisa Anda dapatkan di dekat Anda. Sate Madura akan dibungkus menggunakan kertas nasi coklat. Bahkan bungkus Sate Madura itu mampu menampung sate madura beserta nasi atau lontong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu bungkus Sate Madura yang paling digunakan oleh pedagang adalah merek Cap Gajah. Bungkus Sate Madura itu tahan panas dan tahan minyak. Dengan demikian tidak perlu heran jika Anda menemukan pedagang Sate Madura yang membungkus bumbu sate ke dalam kertas nasi coklat atau <em>Laminated Wrapping Kraft<\/em> Cap Gajah. Hal itu menunjukan bahwa produk kami tahan minyak berkat penggunaan plastik alas yang terbaik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Milikilah bungkus Sate Madura Cap Gajah di warung terdekat Anda atau di toko <em>online<\/em> resmi kami:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">E Commerce Suparma<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Shopee See-U &amp; Plenty Jakarta<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Shopee See-U &amp; Plenty Surabaya<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Shopee See-U &amp; Plenty Bandung<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tokopedia See-U &amp; Plenty Jakarta<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tokopedia See-U &amp; Plenty Surabaya<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tokopedia See-U &amp; Plenty Bali<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tokopedia See-U &amp; Plenty Bandung<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Blibli See-U &amp; Plenty Surabaya<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Blibli See-U &amp; Plenty Jakarta<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Blibli See-U &amp; Plenty Bandung<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Lazada See-U &amp; Plenty Jakarta<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">TikTok Shop See U dan Plenty<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p>Baca Juga:<\/p>\n<table class=\"wp-list-table widefat fixed striped table-view-list posts\">\n<tbody id=\"the-list\">\n<tr id=\"post-2964\" class=\"iedit author-self level-0 post-2964 type-post status-draft format-standard hentry category-uncategorized ast-grid-common-col ast-full-width ast-article-post\">\n<td class=\"title column-title has-row-actions column-primary page-title\" data-colname=\"Judul\"><strong><a class=\"row-title\" href=\"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-admin\/post.php?post=2964&amp;action=edit&amp;classic-editor\" aria-label=\"\u201c2 Tempat Pembelian Kertas Nasi Cap Gajah yang Perlu Anda Coba\u201d (Edit)\">2 Tempat Pembelian Kertas Nasi Cap Gajah yang Perlu Anda Coba<\/a><\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Referensi:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/regional.kompas.com\/read\/2021\/03\/28\/060700078\/asal-usul-sate-ayam-madura-yang-jadi-simbol-pemersatu?page=all<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/www.detik.com\/jatim\/kuliner\/d-6320861\/3-perbedaan-sate-madura-dengan-ponorogo<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/www.kompas.com\/food\/read\/2020\/12\/31\/164754075\/resep-sate-ayam-madura-lengkap-dengan-bumbu-kacang-dan-sambal<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; Perayaan kemerdekaan Indonesia di Istana Negara selalu menghadirkan suasana yang baru. Tahun ini Presiden Indonesia, Joko Widodo mengapresiasi orang-orang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":10287,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"elementor_theme","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"set","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-4020","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-tisu"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4020","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4020"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4020\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":18105,"href":"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4020\/revisions\/18105"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10287"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4020"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4020"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/qr.ptsuparmatbk.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4020"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}